Budaya Pesta Panen (Uman Jenai) di Desa Lidung Payau

not image



Oleh : Sophia Erjam

Uman Jenai merupakan tradisi atau upacara tahunan yang diadakan oleh suku dayak kenyah dan upacara tersebut merupakan tempat pertemuan para tetua adat untuk membicarakan pembangunan persatuan dan musyawarah masyarakat. Dalam tradisi uman jenai ada tradisi Pekatoq (Menasehati) pekatoq dikatakan menasehati satu orang atau banyak orang untuk dilakukan oleh orang tua dalam segala hal baik masyarakat maupun rumah tangga "Semangat terus dalam pertanian terutama menanam padi, berkebun sayur-sayuran, disertai gotong royong agar pekerjaan terasa lebih ringan gotong royong tetap di lestarikan" ucap Pak Daniel Lencau salah satuh penasehat. setelah selesai pekatoq ada Benggan (simbol nasehat baik yang telah dihiasi oleh ibu-ibu seperti rokok maupun permen) benggan ini di gantung ditengah masyarakat kemudian dibagikan kepada masyarakat,  pada saat sesi pekatoq selesai tujuannya agar apa yang telah di sampaikan dapat dicerna dengan baik. Hal ini sudah menjadi tradisi turun temurun.

Umen jenai biasanya dilakukan setelah panen padi, dan harus dilaksanakan setiap tahun karena itu sudah menjadi peraturan adat. Uman jenai dan langsung syukuran , karena sudah selesai panen padi yang dihasilkan setiap tahun, dan membagikan kepada masyarakat (Jenai) yang sudah dimasak berupa beras yang dimasak dalam bambu. Cara memasak jenai kita hanya membutuhkan atau menggunakan bambu dan dicampurkan air pandan supaya wangi. Memasaknya dengan arang api supaya tidak gosong dan dimasak sampai matang.

Biasa sayur atau lauk yang dimakan bersama jenai tersebut dibawah masing-masing dari rumah, agar tidak terlalu repot mencari sayur atau lauk. Dan itu sudah kebiasaan orang-orang (warga masyarakat) setiap melaksanakan acara Uman Jenai. Diacara tersebut Kepala Desa, Kepala Adat dan masing-masing ketua RT menyampaikan pendapat dan peraturan adat, pendapat yang sudah dihasilkan tahun itu dan peraturan adat yang sudah ditentukan.

Bagikan post ini: