Tradisi Nugal masih lestari di Desa Lidung Payau
Nugal merupakan salah satu tradisi menanam padi yang unik dan telah dilakukan secara turun-temurun oleh suku Dayak di Kampung Lidung Payau tepat nya di Kalimantan Utara. Tradisi ini dilaksanakan ketika pemilik lahan telah membuka ladangnya dan siap untuk ditanami padi di lahan kering. Pada zaman dahulu, nugal dilakukan secara bersama-sama oleh warga desa sebagai bentuk solidaritas. Kegiatan menugal melibatkan beberapa orang: ada yang bertugas menusukkan kayu tugal ke tanah, ada yang memasukkan benih ke lubang, dan ada pula yang menutup kembali lubang dengan tanah. Semua dilakukan beriringan dengan ritme yang teratur.
Tradisi Nugal masih dilestarikan oleh
masyarakat hingga saat ini, terutama di Desa Lidung Payau. Masyarakat desa
umumnya masih berpegang pada kalender musim atau tanda-tanda alam. Pada bulan
Agustus hingga selesai, biasanya masyarakat mulai bersiap mengolah ladang
karena memasuki musim tanam. Saat inilah kegiatan nugal dilakukan bersama-sama
atau senguyun, diawali dengan doa agar hasil panen kelak melimpah. Senguyun
adalah istilah untuk kerja sama atau gotong royong tanpa pamrih dalam
masyarakat desa. Dalam kegiatan menugal, senguyun menjadi kunci utama karena
luasnya lahan dan pekerjaan berat akan terasa ringan jika dilakukan
bersama-sama. Dengan senguyun, pekerjaan cepat selesai, dan semua orang merasa
terbantu.
Tujuan senguyun dalam nugal : Untuk
mempererat persaudaraan, menjaga tradisi kebersamaan, serta meringankan beban
pekerjaan. Makna senguyun dalam nugal: Mengajarkan bahwa hidup harus saling
tolong-menolong. Nilai spiritual: Menugal bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi
juga doa agar tanah memberi hasil terbaik. Nilai sosial: Tradisi ini memperkuat
ikatan antarwarga, sehingga desa terasa lebih harmonis. Nilai budaya: Nugal
adalah warisan leluhur yang perlu dijaga agar generasi muda tidak melupakannya.
Tradisi menugal adalah cermin dari
kehidupan desa yang penuh kebersamaan. Di tengah modernisasi, nugal
mengingatkan kita akan pentingnya gotong royong, kesederhanaan, dan hubungan
harmonis dengan alam. Semoga tradisi ini tetap lestari, menjadi inspirasi,
untuk masa depan yang lebih baik.
Baca juga:
PESTA PANEN ATAU UMAN UNDAT
PESTA PANEN ATAU UMAN UNDAT